Pohon tidak tumbuh sampai menyentuh langit. Sebanyak apa pun penguatan saham teknologi terus mencetak rekor, cepat atau lambat, harus ada jeda. S&P 500 dan Nasdaq Composite turun selama lima hari perdagangan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak April 2024. Indeks Semikondukstor Philadelphia mencatat penurunan mingguan terbesar sejak April 2025.
Para investor mulai meragukan bahwa perusahaan AI mampu menghasilkan laba yang sepadan dengan miliaran dolar yang telah digelontorkan. Kekhawatiran ini diperburuk oleh prospek bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Produsen chip memori sebenarnya tidak kesulitan menjual produk — semua yang mereka hasilkan bisa terserap pasar. Risiko yang lebih besar justru datang dari kecerdikan para pelanggan terbesar mereka. Micron kehilangan hampir sepertiga dari nilainya pada akhir Maret setelah Google menerbitkan riset mengenai algoritma kompresi TurboQuant. Prospek terobosan teknologi yang dapat mengurangi permintaan memori di masa depan membuat para investor cemas, terutama mengingat seberapa besar kapitalisasi pasar para emiten tersebut telah meningkat.
Dinamika indeks saham

BIS mengingatkan pasar bahwa lima hyperscaler terbesar sedang bersiap menggelontorkan lebih dari US$1 triliun untuk belanja modal AI pada 2025–2026. Regulator tersebut memperingatkan bahwa perlombaan memperebutkan pangsa pasar berisiko memicu investasi berlebihan, yang dapat membuat sektor ini rentan jika AI gagal memberikan imbal hasil yang memadai. Sejarah mencatat episode serupa — mania kanal pada 1830-an, pembangunan jalur kereta api di Inggris pada 1840-an, elektrifikasi pada akhir 1920-an, dan gelembung dot-com di akhir 1990-an — yang semuanya berakhir dengan resesi.
Sementara itu, antusiasme mulai memudar bahkan terhadap para pemenang terbaru. Harga saham SpaceX sempat turun di bawah harga IPO. Saham Goldman Sachs dan Morgan Stanley melemah setelah muncul kabar bahwa OpenAI akan menunda IPO hingga 2027. IPO tiga penerbit AI besar yang diharapkan melantai tahun ini sebelumnya diperkirakan akan memberikan bank-bank tersebut biaya penjaminan emisi yang besar.
Namun, tidak semua pihak bersikap pesimistis. Barclays menaikkan target S&P 500 akhir tahunnya menjadi 7.800, dengan alasan bahwa pertumbuhan laba yang kuat akan menjaga penguatan tetap berlanjut meskipun biaya pinjaman lebih tinggi dan ada tekanan terkait AI. AssetMark memiliki pandangan optimistis yang sama: sekalipun suku bunga menekan laba korporasi, FactSet memproyeksikan kenaikan 24% pada laba S&P 500 di 2026, yang dinilai masih akan memberikan cukup bahan bakar bagi pasar saham.

Menurut saya, sebelum gelembung AI benar-benar pecah, pasar akan lebih dari sekali memperdaya bull dan bear dengan "false alarm", berayun dalam rentang yang lebar berkali-kali. Pertanyaannya adalah, berapa banyak osilasi seperti itu yang dibutuhkan sampai para investor berhenti menyamakan koreksi dengan pembalikan tren.
Secara teknikal, pada grafik harian S&P 500, pertarungan untuk level nilai wajar di 7.355 masih berlanjut. Kemenangan di pihak bear akan menjadi justifikasi untuk menambah posisi jual yang dibuka dari 7.450. Kekalahan, sebaliknya, akan menjadi alasan untuk kembali ke posisi beli.
